Thursday, September 6, 2018

My first War with Acne



I have been fighting with acne since in the 5th grade of elementary school. My first acne was on my left cheek. A big one and eye-catching enough to get people’s attention. My mom told me to put cream (it was k*elly p*earl) on it. Later I knew that it was hormonal acne. But it didn't stop me from trying another skin products.

I was that victim of advertisement who believed that beautiful skin was of which had fair complexion. I even trust somebody who said that I could put whitening body lotion on my face to get brighter skin face. And suddenly my face felt burnt at night. I put ice cube on my face but it couldn’t help.

Since elementary school I had tried some face (day) cream and some face wash. I just followed what people wear on their face or what seemed fancy on TV advertisement. I didn’t know how to start using skincare or learned what my skin actually needed.

Then came my puberty when my skin looked better and became glowing. I was in high school. But when I was in the last year of senior high, my hormonal acne bothered me. I was a bit stressed out since I was preparing for national exam and college enrollment test.

Then the worst nightmare of my skin finally happened. It was my worst breakout. My skin became dull, sometimes oily, and pimples everywhere. I gave up on curing myself so I went to see doctor. Until the day I wrote on this blog, I had meet 6 different doctors (some are dermatologist, the rest I still doubt it) to cure my acne caused of hormonal or skincare usage. I had had hormonal injection, drinking zinc pills, laser for acne, etc.

In this year (2018) finally I have courage to stop using doctor skincare product. Since I know number 1 rule for beauty clinic skincare product is you have to consult to your doctor regularly which I can’t do anymore since I currently live away from big cities where the clinic branch lies.

And the journey begins…

p.s. I'll share my progress on my next post

Tuesday, September 17, 2013

Student Center Kala Malam

Berangkat dari kosan
Menyusuri lorong
Jalan setapak ditemani diam
Tak hentinya bunyi dan percakapan malam bergaung di kepalaku
Ku mohon diamlah sejenak
Kembali ku lanjutkan langkahku
Kanan dan kiri telah ku sisir
Tak ada siapa-siapa
Ternyata mataku dikelabui potongan gambar yang pernah ada
Ku berjalan lagi
Diam
Ku gelengkan kepalaku
Itu hanya kenangan.

Tangerang Selatan, 8 Mei 2013
Kau tertutup
Diam
Tersembunyi semua kata dalam kalbumu
Gerakmu hanya menari dalam benakmu
Terbatas dalam ruang dan waktu

Tapi itu dulu
Dulu sekali
Kini kau berubah
Tersamarkan lintang yang pernah kau buat
Hanya katulistiwa yang membawamu pergi

Saturday, June 22, 2013

Menunggu

Kosong,
Tanpa kata sedikitpun menyelinap
Dinding-dinding pun membisu
Masih,
Terpaku menatap kosong
Dalam kesunyian yang nyaring
Terasa malam yang semakin pekat menghakimi
Hanyut dalam gelap
Belenggu ini masih begitu kuat
Semili pun tak mampu bergeser
Mematung
Menunggu eksekusi sang waktu

23 Juni 2013

Thursday, June 13, 2013

Cinta yang Paling Menyembuhkan

“Mencintai makhluk itu sangat berpeluang menemui kehilangan.
Kebersamaan dengan makhluk juga berpeluang mengalami perpisahan.
Hanya cinta kepada Allah, tidak.
Jika kau mencintai seseorang, ada dua kemungkinan diterima dan ditolak.
Jika ditolak, pasti sakit rasanya.
Namun jika kau mencintai Allah, pasti diterima.
Jika kau mencintai Allah, engkau tidak akan pernah merasa kehilangan.
Tidak akan ada yang merebut Allah yang kau cintai itu dari hatimu.
Tidak akan ada yang merampas Allah.
Jika kau bermesraan dengan Allah, hidup bersama Allah, kau tidak akan pernah berpisah denganNya.
Allah akan setia menyertaimu.
Allah tidak akan berpisah darimu.
Kecuali kamu sendiri yang berpisah dariNya.
Cinta yang paling membahagiakan dan menyembuhkan adalah cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Khairul Azzam (Ketika Cinta Bertasbih 1)

Aku lupa sumber yang pertama kali post tulisan ini. Tapi aku menemukannya di tumblr.

Meniti Mimpi di Dunia Hitam di Atas Putih

Di detik-detik terakhirku sebelum melepas masa-sama D III di STAN, aku mulai memikirkan banyak hal. Mimpi-mimpi yang dulu pernah terabaikan dan terkubur dalam-dalam satu-persatu mulai muncul ke permukaan. Semuanya berebut untuk melintasi alam pikiranku, menyita perhatianku, dan memalingkan pandanganku. Ada rasa yang bergejolak ketika mimpi-mimpi itu menghampiriku meminta pertanggung jawabanku. Sekarang mereka seperti meminta tumbal terhadap sikapku selama ini yang telah mengkerdilkan mereka. Aku menghela nafas sejenak hingga berhenti di satu kata. Menulis.

Bukannya tenang, kata itu membuatku berpikir lebih keras. Aku berada di antara rasa takut, bingung, dan panik. Aku seperti baru saja mendengar sesatu yang tabu. Sesuatu yang tak boleh aku raba atau pun aku ucap. Sesuatu yang aku tak punya hak tentangnya dan tak pantas untuknya. Oh Tuhan, kenapa orang yang sangat malas membaca dan sangat jarang menulis tiba-tiba memiliki keingnan untuk ingin menyentuh kata ini.  Menulis. Lantas apa yang pantas untuk aku tulis?

Tak berhenti sampai di situ. Masih di mimpi yang sama, pikirikanku pun dibuat makin liar dengan adanya nafsu untuk menjadikan tulisanku sebagai bagian dari karya yang akan dikonsumsi juri. Ya, aku ingin mengikuti lomba menulis. Menulis pun bukan sembarang lomba menulis. Aku memilih lomba esai non fiksi yang notabene diperuntukkan bagi mereka yang memang memahami akar permasalahan dari topik yang ditawarkan.

Aku merasa pikiran ini begitu lancang. Aku takut hal ini hanya sebatas nafsu berkedok mimpi yang harus aku kejar. Aku takut usaha ini hanya mencari angka satu, dua, atau tiga untuk dibanggakan yang akan mengerdilkan esensi dari proses menulis itu sendiri. Menulis adalah menuangkan dan menyajikan apa yang ada dalam pikiran seseorang. Kualitas tulisan tergantung apa dan berapa banyak tulisan yang seseorang baca serta bagaimana seseorang melatih dirinya untuk terus-menerus berkarya dalam tulisan. Menulis berkualitas butuh proses. Menulis berkualitas bukan produk karbitan yang seketika itu juga menjadi karya bagus. Layaknya belajar, penyempurnaan tulisan terjadi tiap kali menulis.

Oh tidak. Aku merasa makin lancang terhadap kata ini dengan berbicara panjang lebar mengenai proses, esensi, dan bahkan, menganalogikan kegiatan menulis dengan sesuatu hal.  Tahu apa aku ini? Yasudahlah. Ini cuma mimpi. Mimpi itu gratis. Semua orang berhak punya mimpi. Semua orang berhak meliarkan mimpinya menjadi sesuatu hal yang konkrit. Layaknya air, mimpi juga butuh wadah untuk menampungnya. Sudah terlalu lama aku menampung mimpi-mimpi ini dalam benakku, Sudah saatnya aku menampungnya dalam tulisan. Inilah saatnya aku menulis. 

Tangerang Selatan, 6 Juni 2013

Berawal dari Obrolan Malam

“So, what’s your goal?”

Baru saja aku menanyakan cita-cita salah seorang temanku, Kak Sam. Sebenarnya di kampus dia dipanggil Sam oleh teman sebayaku. Namun dia adalah seniorku ketika duduk di bangku SMP sehingga aku tetap memanggilnya ‘Kak’. Meski berasal dari SMP yang sama, aku baru mengenalnya ketika duduk di bangku SMA di salah satu kompetisi debat. Saat itu kami berada di SMA yang berbeda. Dalam perjalanan pulang dari suatu tempat untuk sekadar berbincang dan menyerupun secangkir kopi, aku menemukan banyak hal menarik dari pembicaraan malam ini.

Aku senang sekali bisa menghabiskan waktu kurang lebih sejam berbincang ngalur-ngidul dengan dengan topik yang tidak terfokus di satu titik bareng Kak Sam. Secara pribadi, menurutku dia punya konsep tersendiri tentang hidup dan punya wawasan yang cukup luas. Di saat pikiranku sedang terbawa arus ke sana kemari dia bisa memberikan sudut pandang dan meramal gambaran yang lebih jauh dari opsi ide yang tiada hentinya muncul di kepalaku saat ini.

Di satu titik, aku sangat ingin menjadi penulis. Di lain waktu, aku tertarik dengan dunia fotografi. Di sisi lain, aku melihat seorang jurnalis adalah sosok yang sangat keren (entah mengapa, di mataku seorang jurnalis punya kharisma tersendiri). Di sisi lain.. Ah, sudahlah. Terlalu banyak ide yang tumpah-tumpah di pikiranku. Aku cuma takut tak ada satu pun yang terealisasi hanya karena aku tak mampu fokus di satu titik. Aku merasa pikiranku ini belum stabil dalam menentukan prioritasnya.

Untung di tengah kondisi pikiranku yang terombang-ambing ini Kak Sam masih mau meluangkan waktunya untuk mendengarkan celotehku yang mengalir tanpa spasi. Tuhan, semoga dia gak kapok menemui orang seperti aku, heheh.. Tapi sungguh, pertemuan malam ini bukanlah ide yang buruk. Kak Sam memberiku saran untuk selalu membawa jurnal kemana pun aku berada. Menurut dia, hal itu bakal sangat membantu ketika ada ide, quote, atau hal penting lainnya yang terlintas di pikiranmu yang perlu di abadikan agar tidak hilang dan menguap begitu saja. Bener juga ya. Terkadang ada hal-hal yang menurutku menarik ku lewatkan berlalu begitu saja hanya karena kegiatan membawa-jurnal-lalu-mencatatnya ku sepelekan begitu saja.

“Kalau di koran ada gambar menarik, saya gunting baru saya tempel ki.”

Kurang lebih begitu lah Kak Sam menceritakan mengenai potongan-potongan gambar yang dia tempel di beberapa halaman pertama buku jurnalnya. Menarik. Dengan begitu kita bisa memvisualisasikan impian-impian kita dengan lebih jelas setiap kali membuka buku jurnal tersebut. Memang ini hal sederhana dan mungkin sudah sering kita lihat tapi belum tentu kita pernah mempraktikkannya. Namun percayalah, setiap perbedaan kecil dalam hal kecil maupun besar yang kita lakukan akan sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Aku sangat meyakini hal-hal seperti memulai-dari-yang-kecil. Dengan begitu, aku bisa merebut kembali kepercayaan diriku untuk mengejar semua mimpi-mimpiku yang telah curi start mendahuluiku.

Friday, June 14, 2013

2:12:03 AM

Friday, July 15, 2011

Yang di Persimpang Jalan

Kenapa sudah pukul 12.47 am ini saya belum tidur? Ada banyak hal yang menjadi alasan. Selain karena minum kopi tanpa melakukan aktivitas yang berakibat jantung terus berdebar, juga karena ada banyak hal yang saya pikirkan saat ini. Memang ga terlalu banyak dibandingkan orang-orang yang kini memangku jabatan penting dalam suatu organisasi atau pekerjaan dan juga ga terlalu berat bak memahami suatu filosofi. Ini cuma pemikiran orang yang berhenti sejenak dipersimpangan jalan. Orang yang melihat hingga titik jalan yang belum ditempuh dan telah dilewati. Tapi waktu yang saya punya terbatas. Terlalu lama di sini, berati saya menjadi orang yang hidupnya berakhir di titik ini. Makanya, saya tidak akan bisa kembali untuk memperbaiki yang sudah saya tinggalkan.

Saya kembali berpikir. Banyak kesempatan yang saya lewatkan. Banyak hal-hal yang sebenarnya saya bisa lakukan dengan lebih baik. Tapi, that’s all. Saya begini sekarang karena saya begitu kemarin. Kekurangan hari ini adalah hasil dari proses yang prematur kemarin.

Nyesal? Iya. Tapi saya harus tetap maju. Trus, apa yang jadi masalah? Kesalahan kemarin membuat saya menjadi orang yang takut berbuat salah. Padahal menjadi salah adalah bagian dari belajar, terutama belajar tentang hidup itu sendiri. Saya menjadi orang yang pesimis, ragu melangkah, dan tidak berani mengambil keputusan. Pada akhirnya saya masih di tempat, tetap berada di titik yang sama. Saat melihat titik-titik kecil di jalan yang belum saya tempuh, saya sadar. Mereka adalah orang-orang yang sudah jauh di depan sana. Saya tertinggal jauh. Tetap, kaki ini masih terlalu berat untuk memulai satu langkah kecil, bahkan menyeretnya pun susah.

Ternyata keputusan ini salah. Dari sebuah ketakutan akan berbuat salah memunculkan retak yang tidak kasat mata. Retak yang pada akhirnya tidak terbendung. Ternyata saya telah menimbun kesalahan yang lebih besar lagi..

Di sini, saya masih berkutat dengan suara-suara di kepalaku.

“Hey, kalian! Saya ingin damai saja. Kita terlalu banyak mempermasalahkan ini-itu tanpa melakukan apa-apa. C’mon, talk less do more.”

Tidak ingin melupakan kesalahan kemarin bukan karena ingin menjadi ini atau itu. Tetapi karena saya hanya ingin menjadi diri sendiri dan melakukan segalanya on my own way. Saya hanya ingin menjadi orang yang menebarkan energi positif ke orang-orang sekitar. Hanya saja ketidakmampuan mengatasi diri sendiri ini yang menahanku untuk berbuat kebaikan kecil dan sederhana untuk orang lain.

Meskipun pernah kecewa dengan keputusan-keputusan sendiri. Tapi saya bersyukur. Allah pernah mempertemukan saya dengan orang-orang yang luar biasa. Orang-orang yang menjadi ‘alaram’ saya. Orang yang di antaranya pernah menjejalkan pesan-pesan penting.

“Suatu saat kamu akan berterima kasih.”

Saya tidak menunggu hari ini atau beberapa tahun mendatang untuk merasakan grateful. Sejak awal saya sudah sepatutnya berterima kasih meskipun hingga saat ini, saya belum jadi apa-apa. Thanks.

Saturday, July 16, 2011

1:45:26 AM

Saturday, March 12, 2011

Untold Note

You hold my hand and I cry

Perjalanan jauh dan segudang pengalaman hidup menjadi sketsa di wajahmu.
Lekukan tempat keringatmu berpacu saat membanting tulang tampak tegas.
Engkau tak peduli meski otot-ototmu mulai lengah dimakan umur.
Kau tampil seadanya, menyapu setiap masalah yang menyapamu.

But I even can't say a word

Nada suaramu tak lekang oleh waktu.
Meski baja tak mampu, namun hatimu lebih lembut dari sebuah kapas.
Terperangah, aku bahkan perlu mengamplas sikapku.

Then I see your tear

Sulitku tuk berucap mengaburkan maksudku.
Kau tetap menghargai hal-hal sekecil apapun,
meski rasamu tergores sedikit demi sedikit.

Your eyes tell me a lot of things

Aku tak tahu keadaan lukamu yang kemarin tetapi aku tahu
kau tak ingin ku terbebani kesalahanku, baik besar maupun kecil.

'Cause you love me.
But I can't even show you how I feel.
You just went a few minutes ago.
But It feels like I miss you badly.

My first note is about you.

I love You, Dad.
11:20am,
Sat 01-01-2011

Tuesday, September 7, 2010

Terlalu Baik Bisa Merugikan. Lho??


Semua hal positif yang 'terlalu' memang bisa menjadi bumerang. Salah satunya adalah sikap yang terlalu baik. Kok bisa ya? Kan yang gak baik tuh klo 'being evil'. Klo baik aja bagus, kenapa terlalu baik malah jadi masalah? Wanna know why? Let's check it out!

Menurut penelitian, menjadi seseorang yang terlalu baik dapat merusak kehidupan pribadi dan profesional Anda. Hasil studi menyatakan, sikap terlalu baik bisa menghambat seseorang untuk maju, dan mudah dipermainkan orang lain. Masalahnya, dibandingkan pria, lebih banyak wanita yang memiliki kepribadian terlalu baik ini. Mengapa?

"Wanita dibesarkan dan dilatih untuk menjadi pribadi yang selalu baik dan melakukan hal-hal yang seharusnya dijalani. Mereka kurang dilatih untuk bersikap tegas," kata Kiki Weingarten, dari perusahaan konsultan karir, DLC Executive Coaching and Consulting, Amerika Serikat, seperti dikutip dari Shine.

Weingarten menambahkan, ketegasan bukan berarti menjadi jahat, kasar atau konotasi negatif lainnya. "Ketegasan berarti mampu berdiri sendiri dengan kemampuan yang dimiliki tanpa menyakiti orang lain atau menjadi jahat."

Menurut Craig English, salah satu penulis "Anxious To Please: 7 Revolutionary Practices For The Chronically Nice", Anda termasuk orang yang terlalu baik apabila :

1. Anda sering merasa khawatir terhadap suatu hal, dan itu tampak normal

2. Anda sering tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan

3. Anda sering minta maaf padahal tidak melakukan kesalahan

4. Keadaan emosi Anda mengikuti pasangan (jika pasangan Anda tidak bahagia, Anda juga tidak bahagia).

5. Anda tidak dapat mempertahankan perasaan romantis, dan bahkan tidak bisa memulainya

6. Anda selalu merasa merindukan sesuatu/seseorang.

Weingarten mengatakan sebanyak 99,9 persen dari klien wanitanya mengalami masalah sama, yaitu memiliki pribadi yang terlalu baik. Ia menyarankan untuk belajar mengetahui apa yang sebenarnya mereka inginkan, bukan langsung berpikir: "Tetapi dia ingin aku melakukan.... " atau "Mereka tidak akan menyukaiku jika...".

Sebenarnya bukan masalah besar jika mengecewakan seseorang. Tetapi, hal yang harus dipelajari adalah menerima atau bertoleransi dengan reaksi orang lain yang tidak puas atau tidak menyukai Anda.

(taken from yahoo, dengan sedikit perubahan)

Saturday, July 24, 2010

Mungkin

Aku duduk penuh gelisah. Sesekali ku pandangi HP-ku. Tapi makin sering ku memandnginya, maka makin bertambah pula rasa kecewaku. Rasa ini telah ku timbun sejak empat hari lalu karena tidak menerima pesanmu tuk yang ketiga kalinya walaupun ku tak membalas pesan yang sebelumnya.

Diriku terdengar egois kini. Namun ku tak peduli karena dirinya kini juga tak peduli akan diriku. Hal itu terlihat jelas dari keputusannya tuk tuk menghubungiku lagi ketika ia dalam masalah. Hanya ketika ia dalam masalah. I'm now your bin.

Menjadikan ia teman biasaku membuatku merasa seperti vampir yang harus menahan diri tuk meminum darah. Aku merasa lebih baik tuk menghindar jauh. Namun aku juga tak bisa membiarkan apa yang pernah ada hilang begitu saja seolah kita tak saling mengenal sebelumnya. Aku tak bisa berpura-puratidak mengetahui apapun tentangnya. Karena, mengetahui dirinya bahagia dan baik-baik saja membuatku merasakan hal yang sama.

Tapi kata yang bisa ku ungkapkan saat ini hanyalah "mungkin" karena aku bukan Tuhan yang mengetahui segalanya dengan pasti. Mungkin ia kan baik-baik saja saat ini. Mungkin dia kan menemukan penggantinya segera. Mungkin, aku bisa menyimpan rasa ini tuk selamanya.

Mati jodoh


Tepat puku 22:22 tadi malam HP-ku berdering pertanda sebuah pesan singkat baru saja aku terima. Aku berharap dirimulah yang baru saja mengrim pesan itu. Ternyata lagi-lagi itu pesan dari oarang lain. Pesan tersebut dikirim oleh sepupuku dengan huruf 'Caps Lock' yang bertuliskan "MATI JODOH"! Gila, tega banget sih yang ngebuat pesan ini. What A Fcuk!

Pesan tersebut meminta penerimanya tuk meneruskannya ke 10 teman si penerima yang masih perawan. Maksa banget, kan. Karena jengkel, aku pun membalas pesan tersebut yang kira-kira bunyinya seperti ini, "Mari kita mendoakan orang yang membuat pesan Mati Jodoh tuk segera mendapatkan ganjarannya. Kirim pesan ini kembali ke pembuatnya."

Friday, July 23, 2010

Tentang sebuah pesan

Malam ini aku masih sibuk dengan catatan-catatanku di depan meja belajar. Sesekali ku pandangi telepon genggamku dan berharap nada sms ataupun panggilan masuk berdering. Sayangnya HP-ku kini larut dalam dalam sunyinya malam. Membisu akan kabarnya saat ini.

Memang aneh kedengarannya. Aku selalu menunggu nomornya muncul dilayar HP-ku meskipun hanya berupan sapaan "Hey". Tapi di saat yang sama aku juga memaksakan diri tuk tak memberi respon. Kini telah berhari-hari berlalu tanpa kabar dariku.

Aku bukannya ingin menjadi orang yang arogan. Aku hanya tidak ingin memberi interpretasi yang berbeda atas sikap yang tiba-tiba berubah itu. Karena saat ini aku sedang berusaha menggapai permukaan, aku tak ingin jatuh ke dasar lubang ini lagi.

Detik ini ku masih menahan inginku. Ku hanya bisa membaca pesan itu lagi dan lagi. Sesekali ku gelengkan kepalaku agar bayang tentangnya menguap ke udara. Sayangnya, ia kembali lagi ke pikiranku dalam sekejap.

Wednesday, July 7, 2010

Dewa Malam


Untukmu Dewa malam
yang menyelimuti insan
dalam cerita panjang
dengan jubah hitamnya

ku titip pesanku
tuk kau bisikkan padanya
karena jarak dan keadaan
kini menghalauku

Dewa malam,
mengapa aku gelisah?
Bayangnya seakan memberi
ungdangan perpisahan

Kini ku tak peduli
pesanku tak digubrisnya
karena beban itu kan sirna
ketika ia tahu segalanya

Monday, July 5, 2010

Tak Bisa

Aku tak bisa menunggu hari esok
karena hari esok enggan menunggu
memperbaiki mimpi-mimpiku hari ini
yang ku pupuk dengan sesal

Aku tak bisa menunggu hari esok
karena ku ingin segera mengetahui
kejutan apa yang telah diundi
yang kan mengubah haluanku

Malam ini ku hanya bermimpi
mengayuh sepedaku jauh dari penat
Mencari tempat ramai yang menarikku
lepas dari belenggu hampa

Ku yakinkan diriku saat ini
agar hayal tak sekedar hayal
Esok ku tlah pergi
jauh dari kepingan terbuang

Wednesday, December 30, 2009

Broken heart?


Salah satu hal yang biasanya dihadapi setiap insan adalah masalah cinta. Bagi yang berada pada tahap awal dinamakan jatuh cinta. Sementara bagi yang berada pada tahap ’perpisahan’ dinamakan patah hati.

Oke, ini tampaknya simpel saja. Bagi yang kehilangan atau patah hati, skenarionya bisa seperti ini: jatuh cinta, patah hati, sedih sejenak, dan lupakan segalanya. But, is it that simple? Guys, let’s check it out!

  1. Think about the problem

Orang patah hati pasti karena ada massalah atau ada sesuatu yang salah. Masalahnya, apakah kalian sudah memikirkan masalah itu sendiri ataukah kalian hanya larut dalam perasaan galau ini? Coba pikirkan kembali, kalau bukan dari dia, masalah ini pasti dari diri kita sendiri.

  1. Find the solution

Solusinya bisa apa saja. Entah dari kita yang ingin mengintrospeksi diri, atau mencari cara lain. Setelah itu, pikirkan jalan apa yang bisa kita tempuh ke depannya. Mau menjalin pertemanan atau malah ke hubungan yang lebih serius juga bisa. Intinya, masalah datang untuk kita petik hikmahnya dan kita tidak bisa memaksakan keadaan.

  1. Learning

Coba deh kita belajar. Pikirkan sisi positif apa saja yang kita dapatkan setelah merasa patah hati. Kita bisa tahu kesalahan kita, kita bisa belajar tentang kepribadian orang lain, kita bisa melatih kesabaran, dan of course kita menjadi makin dewasa. Semua itu completely kalian dapatkan, asal kalian serius mau menjadi sosok yang lebih baik. Ingat, masih banyak ikan di laut!

  1. Be open minded!

Orang yang merasa dunia ini milik pribadi bukan hanya orang jatuh cinta saja, lho! Orang yang patah hati juga. Buktinya saja mereka merasa kesepian dalam keramaian, mengganggap cuma ada dia di dunia ini. Please, dunia ini tidak sesempit daun kelor. Cobalah untuk sedikit terbuka dengan teman-teman dan segala perkembangan yang ada. Selain tidak membuatmu kesepian, hal ini pasti akan membuatmu lebih baik. Coba aja.

  1. Tumpahkan semua perasaan itu

Kalau sakit hati, jangan dipendam. Luapkan saja! Coba curhat ke sahabat atau orang kepercayaan lainnya. Mereka pasti mau menolongmu. Tapi ingat masih ada beribu cara lain, misalnya kalian membuat puisi, cerpen, novel, atau menyalurkannya ke aktivitas sekolah. Biarkan alam bawah sadarnya mengerahkan seluruh energi itu untuk sebuah prestasi. Yakinlah, hasilnya bakal diluar dugaan kalian!

  1. Bersyukur

Sudahkah kalian bersyukur dengan apa yang kalian miliki? Mungkin ini adalah salah satu cara Tuhan mengambilnya. Tapi kalau dipikir secara logika, bukankah kita harus bersyukur dengan keadaan ini? Bagaimana tidak, Tuhan sudah memberikan kita kesempatan untuk merasakan indahnya cinta. Dan kalau cinta itu pergi, itu kan hal yang wajar. Ingat, setiap hal yang datang pasti kan pergi. Hanya Yang Maha Kuasa-lah yang tidak akan meninggalkanmu.

  1. God’s planning is always better

Allah yang menciptakan kita, Allah yang menentukan nasib kita, dan Allah-lah yang mengetahui yang terbaik bagi kita. Orang yang kita cintai adalah ciptaan Allah juga. Dia-lah yang mengetahui isi hati orang yang kita cintai. Dia memberikan bukan apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan. Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha dalam hal apapun. Pokoknya, tetaplah semangat berbagi cinta dengan makhluk Allah lainnya dengan penuh keikhlasan. Believe me, keyakinan yang kalian tanam di hati kalian ’kan membuat kalian beribu kali lebih baik!


That’s all from me. Honestly, there’re still a lot of things I want to tell you. Here, what I’ve said is based on my experience, my true story. It’s about what I feel after being so complicated in life. I’ve wasted my time on confusion. But every time I feel bad, I believe there's something better outside ^_^ V

Monday, December 28, 2009

New Year

We will open the book. Its pages are blank. We are going to put words on them ourselves. The book is called Opportunity and its first chapter is New Year's Day.
(Edith Lovejoy Pierce)

Now it's December, the end of 2009. It's just some hours left to the new year eve, to 2010. Smiles, tears, happiness, and many other we've passed. We've learned a lot of things in 2009. Sometime we don't notice what happen around us, we just let them flow then we realize we've been too far. Sometime i wish i could have one chance to do this and to do that. Then i realize, it's my life and god know what's the best for me, so i don't need second chance to do the same thing, but i need another chance to do the right thing.

Thinking about another chance, here is my list for what-i-want-to-do and what-my-dreams-are in 2010:
1. be forgiven
2. minimum score 8,5 in all subjects
3. passing the UN, UAS, and 1st choice of SNMPTN..Amin!
4. all my school x-cool activities and projects will be finished ASAP!!
5. winning a scholarship
6. be the 1st winner of The Most Creative Student-biology
7. winning my last debate competition @17 January
8. buying a new phone by my own money ^__^
9.and my other dreams...

Okay...
good bye 2009, welcome 2010..
Happy New Year ^_^V

Electric Daisy (Dengeki Daisy)


Ada yang tahu dengan Electric Daisy?

Electric Daisy ini adalah komik karangan Motomi Kyosuke. Komik ini menceritakan tentang seorang remaja putri bernama Teru Kurebayashi yang masih duduk di bangku SMA. Dia kini hidup sebatang kara setelah kematian kakaknya. Satu-satunya peninggalan dari kakaknya adalah handphone yang bisa ia gunakan untuk mengirimkan e-mail ke Daisy.

Sementara itu, sang penjaga sekolah, Tasuku Kurosaki seringkali menindasnya dan memberinya tugas berat. Hal ini ia lakukan untuk menutupi sosok dirinya yang sebenarnya. Dan tanpa Teru sadari, orang yang selama ini menjadi tempat curhatnya dan sosok yang setia membalas e-mailnya adalah Tasuku.

Dalam kerahasiaan identitas Tasuku, tersimpan juga rahasia-rahasia lain mengenai asal-usul Daisy serta ambisi orang-orang di sekitas Teru. Namun, cepat atau lambat kebenaran itu akan terungkap.

Komik ini sangat menarik, selain menampilkan unsur 'serial cantik', komik ini juga menampilkan sisi humor, action, dan juga kasus misterius.

Sayangnya, untuk saat ini baru komik I - IV yang ada. Semoga saja komik V-nya bisa segera terbit :)

Dari Dunia Maya hingga Pembunuhan

Judul Asli : The Blue Nowhere

Pengarang : Jeffery Deaver

Alih Bahasa : Andang H. Sutopo

Peresensi : Andi Eka Iftitah N.

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Edisi : Soft cover

ISBN : 979-22-0814-3

Tanggal penerbitan : Mei 2004

Bahasa : Indonesia

Halaman : 11 x 18


Novel karangan dari Jeffery Deaver ini menceritakan tentang seorang tahanan penjara federal sekaligus seorang hacker, Wyatt E. Gillette yang membantu tim dari kepolisian untuk memburu pelaku kasus pembunuhan berantai di California. Pelaku pembunuhan tersebut adalah cracker (sebutan untuk orang yang menerobos situs tanpa izin dan melakukan pencurian data atau hal-hal perusakan lainnya) yang sudah tak bisa lagi membedakan mana dunia maya dan mana dunia nyata.

Sang cracker menganggap hidup manusia sama halnya dengan permainan yang dinamakan MUD-game. Dalam hal ini ia harus membunuh sebanyak mungkin targernya dalam waktu seminggu untuk mencapai level tertinggi; expert. Namun, hal inilah yang membuatnya ketagihan untuk memakan lebih banyak korban dengan tingkat kesulitan yang terus bertambah. Makin sulit targetnya, makin tinggi pula point yang akan dia dapatkan.

Dalam menjalankan aksinya, Jon P. Holloway menyelundupkan sebuah program ke dalam PC atau laptop calon korbannya dan berhasil menyadap apapun dari sana dengan program tersebut. Ia bisa tahu apa isi e-mail, hasil chat, bahkan data dari komputer calon korban sendiri. Ia bisa tahu segalanya, bahkan bisa menyadap hubungan telekomunikasi yang dilakukan calon korban sehingga suatu saat ia bisa menjelma menjadi siapapun yang dikenali korban dan bisa saja membunuhnya. Penjelmaan diri menjadi orang lain ini dikenal dengan istilah social engineering atau rekayasa sosial.


Salah satu hal yang paling mengerikan dari novel ini ialah kelakuan si-cracker, Jon P. Holloway, dalam melakukan aksinya menyelundupkan sebuah program ke dalam PC atau laptop calon korbannya dan berhasil menyadap apapun dari sana dengan program tersebut. Ia bisa tahu apa isi e-mail, hasil chat, bahkan data dari komputer calon korban sendiri. Ia bisa tahu segalanya, bahkan bisa menyadap hubungan telekomunikasi yang dilakukan calon korban sehingga suatu saat ia bisa menjelma menjadi siapapun yang dikenali korban dan membunuhnya.


Buku Deaver sudah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa ini memang cukup menantang pembacanya dengan alur yang dulit ditebak, bahkan mengecoh. Ada beberapa bagian yang ditulis dengan alur mundur untuk menghubungkan sebab-akibat suatu kejadian di dalamnya. Namun ada sedikit kesulitan yang mungkin saja dihadapi pembacanya ketika menghadapi beberapa istilah percakapan asing.


Meskipun novel ini merupakan jenis novel fiksi-ilmiah dan terdapat begitu banyak istilah komputer yang ditawarkan penulisnya, istilah-istilah tersebut dijelaskan cukup detail sehingga memudahkan para pembaca yang berasal dari kalangan awam. Dengan akhir yang di luar dugaan dan susunan alur yang dinamis, novel ini benar-benar menyajikan suasana yang berbeda bagi pembacanya. Bagi yang penasaran akan karya Deaver ini, tidak ada salahnya mencoba.

Tiga SMA

foto: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4cmB3Q15W1WbSCBPvH1fX2pGdruqEbSVbkWdvmf9BP9bp1QV-qXZSNM7kkUc9zQCk5XE2U3lrn_S7nFp9Z9n0S8gjhDmnn56hrtTcjVE55GpJvTxY_QddPn5_r5K3-lPIv_msHNVVBvwW/s1600-h/75_ways_to_manage_stress_V-792624.jpg
Kakakku bilang kelas tiga SMA adalah masa-masa paling sulit dalam dunia persekolahan. Alasannya, di sinilah saat dimana orang menentukan langkah selanjutnya buat hidup ke depan. Orang-orang mulai menyiapkan rencana mau-jadi-apa kedepannya dengan mempersiapkan diri akan jurusan yang akan dipilih. Dan yang paling penting, bangku kelas tiga SMA adalah bangku terakhir dalam masa 12 tahun pendidikan sekolah sebelum memasuki dunia universitas, atau yang lebih luas.

Jujur saja, aku membenarkan pernyataan kakak ku itu. Gimana tidak, pada tahap ini yang perlu dipersiapkan itu UN, UAS, college, fakultas, beserta jurusan-jurusannya. Sebelum masuk ke beberapa tahap itu, ada yang namanya tahap persiapan seperti bimbel (bimbingan belajar), latihan soal, dan belajar sampai 'poge'. Ditambah lagi materi sekolah belum sepenuhnya tuntas ketika memasuki semester dua. Huahh, pikiran ini tampaknya telah bercabang layaknya akar monokotil.

Mulai dari cari info perguruan tinggi di ruang BK, pendaftaran program JPPB, ngurus surat atau berkas sana-sini, pengesahan, kumpulin sertifikat, searching PTN di internet, cari beasiswa, ke kedutaan, beli buku, download e-book, nelpon teman-teman sana-sini, ngorek info sama temannya kakak ku yang udah S-3, chatting sama teman yang lebih tahu, dan merogoh kocek untuk kepentingan lainnya sudah cukup mewarnai masa kelas tiga ini.

Untungnya, Yang Maha Kuasa masih memberiku kesempatan untuk memanjatkan segenap doa dan harapan. Doa dari teman-teman, orang tua, dan kakak-kakakku telah banyak membantu meringankan bebanku selama ini. Setelah semua jalan telah ku tempuh, inilah pertahanan terakhirku. Semoga perjalanan yang sudah mendekati 'final' ini tidak sia-sia. Dan aku yakin God's Planning Is Always Better!